5 Praktik Ekosistem Halal Global yang Jadi Standar Dunia

5 Praktik Ekosistem Halal Global yang Jadi Standar Dunia

Industri halal kini telah melampaui batas pemahaman lama yang hanya berkutat pada makanan dan minuman. Dalam skala global, halal sudah menjadi simbol kualitas, transparansi, dan kepercayaan. Tidak heran jika banyak negara mulai menjadikan sektor halal sebagai salah satu pilar ekonomi masa depan.

Pasar halal dunia tumbuh sangat cepat karena permintaan konsumen yang terus meningkat. Menariknya, konsumen halal saat ini bukan hanya berasal dari komunitas Muslim, tetapi juga dari masyarakat luas yang menganggap produk halal lebih aman, higienis, dan terjamin standar produksinya.

Namun, membangun industri halal bukan sekadar menempelkan label sertifikasi. Dibutuhkan ekosistem yang kuat, mencakup regulasi, lembaga sertifikasi, teknologi rantai pasok, inovasi produk, hingga kerja sama lintas negara. Sejumlah negara telah membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat, industri halal dapat menjadi kekuatan global yang kompetitif.

Berikut adalah lima praktik terbaik dalam pengembangan ekosistem halal global yang patut menjadi inspirasi dunia, termasuk bagi Indonesia.


1. Malaysia: Sistem Halal yang Terintegrasi dan Kuat

Jika berbicara tentang industri halal global, Malaysia sering disebut sebagai contoh paling sukses. Negara ini tidak hanya menjual produk halal, tetapi membangun sistem halal yang terstruktur dari hulu hingga hilir.

Keunggulan Malaysia terletak pada sinergi kuat antara pemerintah, industri, dan lembaga sertifikasi. Departemen Pengembangan Islam Malaysia atau JAKIM menjadi pusat sertifikasi halal yang sangat dihormati secara internasional.

Sertifikasi halal JAKIM telah diakui luas di banyak negara, sehingga produk Malaysia lebih mudah masuk pasar ekspor. Selain itu, Malaysia juga mengembangkan halal dalam berbagai sektor, mulai dari makanan, kosmetik, farmasi, hingga logistik halal.

Dengan pendekatan terintegrasi seperti ini, Malaysia berhasil menciptakan ekosistem halal yang matang dan dipercaya dunia.


2. MIHAS: Ajang Strategis yang Menghubungkan Pasar Halal Dunia

Malaysia juga memahami bahwa industri halal membutuhkan ruang promosi global. Karena itu, mereka secara konsisten menyelenggarakan Malaysia International Halal Showcase (MIHAS).

MIHAS bukan sekadar pameran dagang biasa. Acara ini menjadi platform internasional yang mempertemukan produsen halal, eksportir, investor, dan pembeli dari puluhan negara.

Lewat MIHAS, inovasi produk halal terus diperkenalkan, kerja sama bisnis dibangun, dan jaringan perdagangan diperluas. Ajang ini juga membuka peluang investasi lintas negara yang memperkuat konektivitas pasar halal global.

Pameran seperti MIHAS menunjukkan bahwa industri halal membutuhkan strategi pemasaran internasional agar dapat tumbuh lebih besar.


3. Thailand: Pendekatan Halal Berbasis Ilmu Pengetahuan

Praktik menarik lainnya datang dari Thailand, negara yang mungkin tidak selalu dikenal sebagai pemain utama halal, tetapi memiliki strategi unik yang sangat kuat.

Thailand mengembangkan halal melalui pendekatan ilmiah lewat Halal Science Center di Chulalongkorn University. Lembaga ini mendukung industri dengan penelitian, pengujian laboratorium, serta verifikasi standar halal secara objektif.

Pendekatan berbasis sains ini memberikan nilai tambah besar karena halal tidak hanya dilihat sebagai aturan agama, tetapi juga sebagai standar kualitas dan keamanan global.

Produsen Thailand menjadi lebih kompetitif karena mampu membuktikan kepatuhan halal secara terukur dan transparan, yang sangat penting dalam perdagangan internasional.


4. Teknologi Digital dalam Rantai Pasok Halal

Di era modern, teknologi menjadi elemen penting dalam memperkuat industri halal. Banyak negara mulai menerapkan blockchain dan kecerdasan buatan (AI) untuk memastikan transparansi rantai pasok halal.

Blockchain memungkinkan produk halal dilacak dari sumber bahan baku, proses produksi, hingga distribusi ke konsumen. Informasi ini dapat diverifikasi secara real time, sehingga mengurangi risiko manipulasi data.

Sementara itu, AI dapat membantu industri dalam mendeteksi ketidaksesuaian standar, mempercepat proses audit, dan meningkatkan efisiensi sertifikasi.

Dengan teknologi ini, ekosistem halal menjadi lebih modern, transparan, dan dipercaya konsumen global yang menuntut standar tinggi.


5. Kolaborasi Internasional dan Standarisasi Global

Ekosistem halal tidak bisa berkembang jika hanya berjalan sendiri dalam batas negara. Kolaborasi internasional menjadi kunci penting dalam memperluas pasar halal.

Forum seperti Global Halal Summit mempertemukan badan sertifikasi, pembuat kebijakan, akademisi, dan pelaku industri dari berbagai negara.

Kolaborasi ini mendorong harmonisasi standar halal internasional, sehingga produk halal dari satu negara lebih mudah diterima di pasar negara lain.

Selain itu, kerja sama global membuka peluang investasi dan memperkuat posisi industri halal sebagai sektor ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.


Kesimpulan: Halal Sebagai Ekonomi Masa Depan

Praktik terbaik dari Malaysia dan Thailand menunjukkan bahwa industri halal bukan sekadar pasar religius, melainkan kekuatan ekonomi global yang besar.

Keberhasilan ekosistem halal bergantung pada kombinasi:

  • Regulasi yang jelas dan kuat
  • Sertifikasi halal yang kredibel
  • Dukungan riset dan inovasi ilmiah
  • Pemanfaatan teknologi modern
  • Kolaborasi serta standarisasi internasional

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat halal dunia. Dengan membangun ekosistem yang terintegrasi dan inovatif, Indonesia dapat memperkuat daya saingnya dalam industri halal global yang terus berkembang.

Industri halal bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga jalan menuju masa depan yang lebih transparan, berkualitas, dan dipercaya dunia.

Baca juga : Pemkab Ketapang Ajukan Pembentukan BNNK untuk Perkuat P4GN

Cek Juga Artikel Dari Platform : beritabandar

You may also like...