Banjir Rob Rendam Pusat Kota Ketapang Awal 2026
Banjir Rob Rendam Pusat Kota Ketapang Awal 2026
Banjir rob kembali merendam sejumlah ruas jalan di pusat Kota Kabupaten Ketapang pada Sabtu pagi (3/1/2026). Genangan air laut pasang tersebut mengganggu arus lalu lintas serta aktivitas warga yang beraktivitas di kawasan perkotaan. Fenomena ini menandai awal tahun 2026 dengan tantangan kebencanaan bagi wilayah pesisir Ketapang.
Air laut yang meluap ke daratan menyebabkan sebagian badan jalan tertutup genangan. Pengguna jalan diminta meningkatkan kewaspadaan dan memperlambat laju kendaraan, mengingat permukaan jalan menjadi licin dan tidak seluruh genangan terlihat jelas oleh pengendara.
Ruas Jalan Pusat Kota Terdampak Genangan
Berdasarkan pantauan di lapangan, banjir rob merendam sejumlah ruas jalan utama yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Kendaraan roda dua maupun roda empat tetap melintas, namun harus ekstra hati-hati karena ketinggian air bervariasi di setiap titik.
Sebagian warga memilih menunda aktivitas pagi hari hingga air mulai surut. Sementara itu, pedagang dan pelaku usaha di kawasan terdampak tampak bersiaga untuk mengamankan barang dagangan dari potensi kerusakan akibat air laut.
BMKG: Pasang Laut Capai 1,9 Meter
Berdasarkan data dari BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak, pada 3 Januari 2026 diprakirakan terjadi pasang laut dengan ketinggian mencapai 1,9 meter. Pasang tertinggi diprediksi berlangsung pada rentang waktu pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.
Prakirawan BMKG Ketapang, Ashifa Putri, menjelaskan bahwa kondisi pasang laut ini merupakan fenomena yang telah diprediksi sebelumnya dan berpotensi menimbulkan banjir rob di wilayah pesisir.
“Untuk tanggal 3 diprakirakan pasang setinggi 1,9 meter dari jam 09.00 sampai 11.00 WIB,” ujar Ashifa kepada Suara Ketapang, Sabtu (3/1/2026).
Potensi Rob Berlangsung Hingga Beberapa Hari
BMKG juga mencatat bahwa potensi banjir rob dengan pasang tertinggi 1,9 meter tidak hanya terjadi pada 3 Januari. Fenomena serupa diperkirakan masih akan berlangsung hingga 5 Januari 2026, dengan waktu pasang tertinggi yang relatif sama, yakni pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.
Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah pesisir dan pusat kota Ketapang diminta untuk tetap waspada selama beberapa hari ke depan, khususnya pada jam-jam pasang maksimum.
Penjelasan BPBD: Dipicu Perigee dan Bulan Purnama
Sementara itu, BPBD Kabupaten Ketapang menjelaskan bahwa banjir rob yang terjadi pada awal Januari 2026 dipicu oleh fenomena Fase Perigee dan Bulan Purnama. Kedua fenomena ini berkontribusi terhadap meningkatnya gaya tarik gravitasi yang menyebabkan ketinggian air laut naik signifikan.
Petugas BPBD Ketapang, Karyadi, menyampaikan bahwa hasil pemantauan menunjukkan beberapa wilayah terdampak langsung oleh pasang laut.
“Pemantauan menunjukkan wilayah Muara Pawan, Delta Pawan, dan Benua Kayong terdampak, dengan pasang harian mencapai 1,7 hingga 1,9 meter,” jelas Karyadi.
Wilayah Pesisir Paling Rentan Terdampak
Wilayah pesisir Ketapang memang dikenal rentan terhadap banjir rob, terutama saat terjadi kombinasi pasang laut tinggi dan kondisi cuaca tertentu. Kawasan Muara Pawan dan Delta Pawan menjadi daerah yang paling sering terdampak karena posisinya yang berdekatan langsung dengan laut dan muara sungai.
Selain merendam jalan, banjir rob juga berpotensi mengganggu aktivitas nelayan, distribusi barang, serta akses warga menuju pusat layanan publik di wilayah perkotaan.
Monitoring dan Imbauan Hingga 9 Januari
BPBD Kabupaten Ketapang menyatakan telah melakukan monitoring kondisi pasang laut dan genangan rob sejak awal Januari. Tim BPBD juga telah memberikan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang bermukim di kawasan pesisir.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir rob hingga 9 Januari 2026,” kata Karyadi.
Imbauan tersebut mencakup kesiapsiagaan menghadapi genangan, pengamanan barang-barang penting, serta penyesuaian aktivitas harian agar terhindar dari risiko kecelakaan.
Pengguna Jalan Diminta Lebih Berhati-hati
Selain warga pesisir, pengguna jalan di pusat Kota Ketapang juga diminta untuk lebih berhati-hati saat melintas di lokasi terdampak. Genangan air laut dapat menutupi lubang atau permukaan jalan yang tidak rata, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.
Pengendara disarankan mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta menghindari jalur yang tergenang cukup dalam jika memungkinkan.
Fenomena Tahunan yang Perlu Diantisipasi
Banjir rob merupakan fenomena yang relatif rutin terjadi di wilayah pesisir Ketapang, terutama pada periode tertentu yang berkaitan dengan siklus pasang laut. Meski demikian, dampaknya tetap perlu diantisipasi secara serius agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan melalui pemantauan rutin, penyebaran informasi dini, serta edukasi kepada masyarakat.
Kewaspadaan Jadi Kunci Menghadapi Rob
Dengan potensi banjir rob yang masih berlangsung beberapa hari ke depan, kewaspadaan masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalkan dampak. Informasi resmi dari BMKG dan BPBD diharapkan dapat menjadi acuan bagi warga dalam menyesuaikan aktivitas sehari-hari.
Banjir rob di awal tahun 2026 ini menjadi pengingat pentingnya kesiapan wilayah pesisir dalam menghadapi dinamika alam, sekaligus perlunya upaya jangka panjang untuk mengurangi risiko genangan akibat pasang laut di Kota Ketapang.
Baca Juga : Toko Emas Gading Mas Marau Dibobol, Kerugian Rp300 Juta
Cek Juga Artikel Dari Platform : musicpromote

