Pamit Pasang Pukat, Pria di Ketapang Ditemukan Tewas di Tepi Sungai
ketapangnews.web.id Warga Desa Kenaga, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, dikejutkan dengan penemuan jasad seorang pria bernama Rubertus Raon.
Ia ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di tepi Sungai Laur, wilayah yang menjadi lokasi aktivitas nelayan setempat.
Sebelumnya, korban sempat pamit kepada keluarganya untuk memasang pukat pada malam hari. Namun hingga pagi menjelang siang, ia tidak kunjung pulang.
Kekhawatiran keluarga mendorong warga untuk melakukan pencarian di sekitar aliran sungai. Upaya pencarian dilakukan dengan menyusuri tepian sungai dan menelusuri area tempat korban biasa menangkap ikan.
Tak lama kemudian, jasad Rubertus ditemukan mengambang di tepi sungai dengan posisi miring, sebagian tubuhnya masih terendam air.
Pencarian yang Penuh Harap dan Kecemasan
Kabar hilangnya Rubertus cepat menyebar di kampung. Puluhan warga bersama tim relawan turun membantu mencari.
Menurut Kepala Desa Kenaga, warga mulai mencari sejak pagi buta setelah mengetahui korban belum kembali.
“Kami khawatir terjadi sesuatu karena biasanya beliau tidak pernah lama di sungai,” ujar sang kepala desa.
Proses pencarian dilakukan secara manual menggunakan perahu kecil dan alat seadanya. Arus sungai yang cukup deras membuat pencarian sempat terkendala.
Beberapa warga juga menelusuri jalur darat di sekitar semak dan rawa yang berada di pinggir aliran Sungai Laur.
Setelah berjam-jam pencarian, seorang warga akhirnya melihat sosok tubuh mengambang di antara ranting dan lumpur sungai.
Polisi Lakukan Olah TKP dan Evakuasi Korban
Setelah laporan diterima, petugas dari Polsek Simpang Hulu segera menuju lokasi. Mereka melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengevakuasi jasad korban ke daratan.
Kapolsek Simpang Hulu, IPTU Wibowo, mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan awal tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.
“Dugaan sementara korban terpeleset saat memasang pukat dan tenggelam. Kondisi air cukup deras dan licin,” ujarnya.
Polisi kemudian berkoordinasi dengan pihak keluarga untuk memastikan kronologi terakhir sebelum korban berangkat.
Menurut keterangan istri korban, Rubertus berangkat sore hari sendirian, membawa peralatan pukat seperti biasa. Ia tidak mengeluh sakit ataupun menunjukkan tanda kelelahan.
“Dia hanya bilang mau pasang pukat sebentar, nanti malam pulang. Tapi sampai pagi tidak kembali,” tutur istrinya lirih.
Keluarga Syok, Warga Ikut Berduka
Kabar meninggalnya Rubertus membuat suasana Desa Kenaga berubah haru.
Sejumlah warga berdatangan ke rumah duka untuk memberikan bantuan dan dukungan moral bagi keluarga korban.
Bagi warga setempat, Rubertus dikenal sebagai sosok sederhana dan pekerja keras. Setiap hari ia mencari ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
“Beliau orang baik, sering membantu tetangga dan tidak pernah punya masalah dengan siapa pun,” kata seorang warga.
Jenazah Rubertus kemudian dibawa ke rumahnya untuk dimandikan dan dimakamkan di pemakaman desa setempat setelah diperiksa tim medis.
Kondisi Sungai Laur dan Risiko bagi Nelayan Lokal
Sungai Laur merupakan salah satu aliran besar di wilayah Ketapang yang menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar.
Warga memanfaatkannya untuk mencari ikan, mengangkut hasil kebun, dan sebagai jalur transportasi lokal. Namun sungai ini juga dikenal berarus kuat, terutama saat musim hujan.
Menurut Petugas BPBD Ketapang, kawasan tersebut kerap mencatat insiden orang hanyut akibat aktivitas nelayan atau warga yang melintas menggunakan rakit kayu.
“Banyak yang bekerja sendirian di sungai. Kalau terpeleset atau terseret arus, kemungkinan selamat kecil,” ujar salah satu relawan BPBD.
Karena itu, aparat desa berencana memperketat imbauan keselamatan kepada warga, terutama mereka yang sering beraktivitas di sekitar sungai.
Warga juga diingatkan agar tidak memasang pukat sendirian pada malam hari karena risiko arus deras dan minim pencahayaan.
Polisi Pastikan Tidak Ada Unsur Kriminal
Kapolsek Simpang Hulu menegaskan hasil pemeriksaan sementara menunjukkan tidak ada tanda kekerasan maupun penganiayaan.
Korban diduga kuat terpeleset dan tenggelam karena kondisi licin saat menurunkan jaring ke sungai.
“Kami telah memeriksa beberapa saksi dan memastikan bahwa kejadian ini murni kecelakaan,” ucapnya.
Pihak keluarga juga menerima dengan ikhlas hasil pemeriksaan tersebut. Mereka menolak dilakukan autopsi dan memilih untuk segera memakamkan korban.
“Yang penting sudah jelas penyebabnya. Kami hanya ingin almarhum segera dimakamkan dengan layak,” kata adik korban.
Pesan Keselamatan dari Aparat dan Pemerintah Desa
Setelah insiden tersebut, pemerintah desa bersama aparat kepolisian mengingatkan warga agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai.
Kepala Desa Kenaga mengatakan akan mengadakan pertemuan dengan kelompok nelayan untuk membahas prosedur keselamatan baru.
“Kami ingin tidak ada lagi korban jiwa di Sungai Laur. Semua harus memperhatikan faktor keamanan,” tegasnya.
Rencana lainnya adalah menyediakan pelampung dan alat komunikasi sederhana bagi warga yang berprofesi sebagai nelayan sungai.
Langkah ini diharapkan bisa mengurangi risiko kecelakaan serupa di masa mendatang.
Tragedi yang Menyadarkan Pentingnya Kewaspadaan
Peristiwa meninggalnya Rubertus Raon menjadi pengingat bahwa aktivitas sederhana seperti memasang pukat pun memiliki risiko tinggi.
Di balik rutinitas mencari nafkah, ada bahaya alam yang bisa datang kapan saja.
Bagi warga Ketapang, insiden ini bukan hanya duka, tapi juga pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan dan kebersamaan.
Masyarakat berharap ke depan ada perhatian lebih terhadap keselamatan nelayan sungai agar tragedi serupa tidak terulang lagi.
Rubertus kini telah dimakamkan dengan tenang, meninggalkan keluarga dan jejak kehidupan yang sederhana namun penuh makna.
Kisahnya menjadi simbol keteguhan para pencari nafkah di tepian sungai Ketapang yang berjuang setiap hari demi keluarga mereka.

Cek Juga Artikel Dari Platform suarairama.com
